Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 106
106 Apa saja ayat yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?(QS. 2:106)
مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (106)
Allah swt. menjelaskan bahwa ayat manapun juga yang dinasakhkan hukumnya, atau diganti dengan ayat yang lain atau ayat yang ditinggalkan, akan menggantinya dengan ayat yang lebih baik yang lebih sesuai dengan kemaslahatan hamba-hamba-Nya, atau menggantinya dengan ayat yang sama nilainya dengan hukum yang lalu.
Adapun hikmah diadakannya pergantian atau perubahan ayat ialah karena nilai kemanfaatannya berbeda-beda menurut waktu dan tempat, kemudian dihapuskan, atau diganti dengan hukum yang lebih baik, atau dengan ayat yang sama nilainya adalah karena ayat diubah atau diganti itu tidak sesuai lagi dengan kepentingan masyarakat sehingga apabila diadakan perubahan atau pergantian termasuk suatu tindakan yang bijaksana.
Bagi yang berpendapat bahwa ayat ini ialah tanda kenabian (mukjizat) yang dijadikan penguat kenabian, maka ayat ini diartikan bahwa Allah swt. tidak akan menghapuskan sesuatu tanpa kenabian salah seorang nabi, yang digunakan untuk penguat kenabiannya, atau tidak akan mengubah tanda kenabian yang terdahulu dengan tanda kenabian yang datang kemudian atau meninggalkan tanda-tanda kenabian itu, karena telah berselang beberapa abad lamanya, terkecuali Allah yang mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas memberikan tanda kenabian itu yang lebih baik, baik ditinjau dari segi kemantapannya maupun dari tetapnya kenabian itu, dan karena kekuasaannya yang tidak terbatas, maka hak untuk memberikan tanda kenabian kepada para nabi-Nya tidak dapat dihalang-halangi.
Penasakhan ayat adakalanya terjadi dengan ayat yang lebih ringan hukumnya seperti dihapusnya idah wanita yang ditinggal mati suaminya dari setahun menjadi 4 bulan 10 hari, atau dengan ayat yang sama hukumnya seperti perintah untuk menghadapkan muka ke Baitul Makdis pada waktu mendirikan salat diubah menjadi menghadapkan muka ke Kakbah. Atau dengan hukum yang lebih berat, seperti perang yang tadinya tidak diwajibkan pada orang Islam menjadi diwajibkan.
Ayat ini tidak hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. akan tetapi juga ditujukan kepada orang-orang Islam, yang merasa sakit hatinya mendengar cemoohan orang-orang Yahudi kepada Nabi Muhammad saw. Orang-orang yang tipis imannya, tentu mudah dipengaruhi sehingga hatinya mudah menjadi ragu-ragu. Itulah sebabnya maka Allah swt. menegaskan bahwa Allah swt. Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan apabila berkehendak untuk menasakhkan hukum tidak dapat dicegah karena masalah hukum itu termasuk dalam kekuasaan-Nya.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 106
مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (106)
Tatkala orang-orang kafir mengecam tentang nasakh/penghapusan atau pergantian hukum dan menuduh bahwa Muhammad menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengerjakan sesuatu pada hari ini lalu melarangnya esok, maka turunlah ayat, (Apa saja) disebut 'syarthiyah' yang membutuhkan jawaban (ayat yang Kami hapus) baik hukumnya itu pada mulanya turun bersama lafalnya atau tidak dan menurut satu qiraat 'nunsikh', artinya Kami titah kamu atau Jibril untuk menghapusnya (atau Kami tangguhkan) Kami undurkan sehingga hukumnya tidak turun dan bacaannya Kami tangguhkan di Lohmahfuz. Menurut satu qiraat tanpa hamzah, berasal dari kata-kata 'nisyaan' artinya 'lupa', sehingga artinya ialah Kami kikis atau hapus dari dalam kalbumu sehingga kamu melupakannya. Jawab syaratnya ialah (Kami datangkan yang lebih baik daripadanya) artinya lebih menguntungkan bagi hamba, baik dalam kemudahannya maupun dalam besar pahalanya (atau yang sebanding dengannya) dalam beban yang harus dipikul atau dalam ganjarannya. (Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?) Termasuk dalam kekuasaan-Nya itu nasakh, yaitu menghapus hukum dan mengubahnya, dan mengenai pertanyaan di sini maksudnya ialah untuk mengukuhkan.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 107
107 Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.(QS. 2:107)
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (107)
Allah swt. menjelaskan bahwa Dia mempunyai kerajaan langit dan bumi, dengan kata lain bahwa langit dan bumi serta seluruh isinya tunduk di bawah kekuasaan-Nya, di bawah perintah dan larangan-Nya. Oleh sebab itu Allah swt. berkuasa pula untuk menasakhkan hukum dan menetapkan hukum yang lain menurut kehendak-Nya, apabila menurut pertimbangan-Nya ada manfaat bagi seluruh manusia karena hukum yang lama sudah dipandang tidak sesuai lagi. Maka Allah swt. memberikan penegasan kepada orang-orang Islam bahwa Allahlah yang memberikan pertolongan dan bantuan kepada mereka. Oleh sebab itu orang-orang mukmin dilarang memperdulikan orang-orang Yahudi yang mengingkari perubahan hukum itu, bahkan menghina karena sikap orang-orang Yahudi yang demikian itu sedikit pun tidak akan memberikan mudarat kepada orang-orang mukmin.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 108
108 Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.(QS. 2:108)
أَمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَسْأَلُوا رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَى مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ (108)
Allah swt. mencela sikap orang-orang Yahudi yang menghina orang-orang Islam, karena adanya penasakhan hukum karena perintah Allah. Dalam hal ini Allah swt. menyindir mereka, apakah mereka ingin mengulang perbuatan nenek moyang mereka, yaitu mengemukakan persoalan kepada Rasul sebagaimana nenek moyang mereka menanyakan sesuatu kepada Nabi Musa a.s. ataukah mereka itu ingin meminta kepada Nabi Muhammad saw. agar supaya beliau mendatangkan hukum yang lain dari hukum yang telah ditetapkan seperti halnya nenek moyang mereka itu mengajukan yang tidak semestinya kepada Nabi Musa a.s.
Firman Allah swt.:
يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَنْ تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَقَدْ سَأَلُوا مُوسَى أَكْبَرَ مِنْ ذَلِكَ فَقَالُوا أَرِنَا اللَّهَ
Artinya:
Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesunguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata." (Q.S An Nisa': 153)
Kemudian Allah swt. memberikan ancaman kepada orang-orang Yahudi, bahwa orang-orang yang tidak memegangi ayat-ayat Allah dengan alasan ingin mencari hukum yang lain yang menurut pertimbangannya lebih baik berarti ia telah mengganti imannya dengan kekafiran, lebih mencintai kesesatan daripada hidayah, serta ia telah jauh dari kebenaran. Dan barangsiapa yang melampaui hukum-hukum Allah, berarti ia telah jatuh ke dalam lembah kesesatan.
Dalam ayat terdapat petunjuk bagi orang-orang Islam, yaitu agar mereka mengerjakan apa yang diperintahkan Rasulullah saw. dan menjauhi segala larangannya. Juga terdapat larangan meminta sesuatu yang di luar ketentuan hukum yang sudah ada.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 109
109 Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. 2:109)
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (109)
Allah swt. menjelaskan bahwa sebahagian besar Ahli Kitab selalu berangan-angan agar dapat membelokkan orang-orang Islam dari agama tauhid menjadi kafir seperti mereka, setelah mereka mengetahui dengan nyata bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. itu benar dan sesuai dengan prinsip yang terkandung dalam Kitab Taurat.
Ayat ini mengandung peringatan kepada orang-orang Islam agar supaya mereka waspada terhadap tipu muslihat yang mereka lakukan itu adakalanya denga jalan mengeruhkan ajaran Islam, dan adakalanya dengan jalan menimbul-nimbulkan keragu-raguan di kalangan umat Islam sendiri. Mereka melakukan tipu muslihat itu disebabkan karena kedengkian semata, tidak timbul dari pandangan yang bersih. Kedengkian mereka bukanlah karena keragu-raguan mereka terhadap kandungan isi Alquran atau bukan karena didorong oleh kebenaran yang terdapat dalam Kitab Taurat, akan tetapi disebabkan karena dorongan hawa nafsu, kemerosotan mental dan kedongkolan hati mereka. Itulah sebabnya maka mereka terjerumus dalam lembah kesesatan dan kebatilan.
Sesudah itu Allah swt. memberikan tuntunan pada umat Islam bagaimana caranya menghadapi tindak-tanduk mereka itu. Allah swt. menyuruh umat Islam menghadapi mereka itu dengan sopan-santun yang baik serta suka memaafkan segala kesalahan mereka, juga melarang agar jangan mencela mereka hingga tiba saatnya Allah memberikan perintah, karena Allahlah yang akan memberikan bantuan kepada umat Islam, hingga umat Islam telah dapat menentukan sikap dalam menghadapi tantangan mereka, apakah mereka itu harus diperangi atau diusir.
Peristiwa ini telah terjadi, umat Islam memerangi Bani Quraizah dan Bani Nadir dari Madinah setelah mereka merobek-robek perjanjian. Mereka memberi bantuan kepada orang-orang musyrikin, setelah mereka diberi maaf berulang kali.
Kemudian Allah swt. memberikan ketegasan atau janjinya bahwa Dia akan memberikan bantuan kepada orang-orang Islam, dengan menyatakan bahwa Dia berkuasa pula untuk memberikan kekuatan lainnya dan Dia berkuasa pula untuk memberikan ketetapan hati agar umat Islam tetap berpegang pada kebenaran sehingga mereka dapat mengalahkan orang-orang yang memusuhi umat Islam secara terang-terangan serta menyombongkan kekuatan.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 110
110 Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.(QS. 2:110)
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (110)
Allah swt. menyuruh orang-orang Islam supaya terus-menerus menempuh jalan yang sebaik-baiknya, melakukan salat dan mengeluarkan zakat. Orang-orang Islam diperintahkan agar terus-menerus mendirikan salat, dan perintah ini dipautkan dengan janji Allah berupa pertolongan mendapat kemenangan karena dalam salat itu terdapat hikmah yang banyak, memperkuat jalinan iman, mempertinggi cita-cita serta mempertinggi daya tahan mental karena di dalam salat itu terdapat doa kepada Allah yang diucapkan seorang hamba Allah sebagai pernyataan kehendak yang serius, serta memperkuat jalinan hati di antara orang-orang mukmin dengan jalan melakukan salat jemaah dan pergaulan mereka di dalam mesjid. Dengan jalan inilah iman itu dapat berkembang dan kokoh, dapat juga memelihara kebersihan jiwa yang dapat mencegah diri untuk melakukan perbuatan yang keji, serta dapat mempertinggi daya juang untuk melaksanakan kebenaran. Maka apabila orang-orang Islam menempuh cara-cara yang demikian itu, niscaya mereka akan mendapat pertolongan dari Allah.
Adapun hikmah yag terdapat dalam mengeluarkan zakat ialah mempererat hubungan antara orang-orang Islam yang kaya dengan yang miskin, sehingga dengan kuatnya hubungan itu akan tercipta kesatuan dan persatuan umat yang kokoh merupakan kesatuan yang bulat.
Sesudah itu Allah swt. menegaskan bahwa salat dan zakat itu sebagai jalan yang harus ditempuh untuk memperoleh kemenangan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Hal ini dapat diketahui dari pernyataan Allah bahwa kebaikan apa saja yang dilakukan oleh orang-orang Islam niscaya akan mendapat balasan dari sisi Allah di hari pembalasan dengan seadil-adilnya. Seterusnya Allah menyuruh orang-orang Islam agar supaya berbuat baik karena Allah benar-benar Maha Mengetahui segenap amalan, baik amal yang banyak maupun amal yang sedikit, tak ada amal yang disia-siakan baik amal yang saleh maupun amal yang jelek, niscaya akan mendapat balasan yang setimpal.
No comments:
Post a Comment