Sunday, April 28, 2013

Tafsir Surah AlBaqarah 116-120

💬 : 0 comment

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 116


116     Mereka (orang-orang kafir) berkata: `Allah mempunyai anak`. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.(QS. 2:116)

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ (116)

Allah swt. menerangkan pengakuan mulut dan hati orang-orang Yahudi dan Nasrani bahwa Allah mempunyai anak. Orang Yahudi mengatakan Uzair putra Allah, sedang orang Nasrani mengatakan bahwa Al-Masih putra Allah. Perbuatan mereka itu tersebut dalam firman Allah swt.:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ
Artinya:
Dan orang-orang Yahudi berkata, "Uzair itu putra Allah." Dan orang-orang Nasrani berkata, "Al-Masih itu putra Allah." Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka. (Q.S At Taubah: 30)

Kedua kepercayaan itu pada a.s.asnya adalah sama, yaitu menyatakan bahwa Allah mempunyai anak dan berarti mereka memperserikatkan Allah, menyatakan bahwa Allah memerlukan pembantu dalam mengurus alam ini, menyatakan bahwa Allah mempunyai suatu cita-cita dan cita-cita itu akan dilanjutkan oleh putra-Nya seandainya Dia tidak ada lagi.

Kepercayaan dan ucapan yang diucapkan orang-orang kafir itu tidak benar, mengherankan dan terlalu berani, Maha suci Allah swt. dari perkataan-perkataan yang demikian itu. Allah swt. tidak memerlukan sesuatupun, tidak memerlukan penolong dan pembantu dalam melaksanakan semua urusan-urusan-Nya, tidak memerlukan sesuatupun untuk melanjutkan kehendak-Nya, karena Dia adalah kekal tidak berkesudahan.

Dari perkataan "Maha Suci Allah" dipahamkan bahwa pengakuan orang-orang Yahudi dan Nasrani tentang Allah swt. mempunyai anak adalah pengakuan yang dihukum sebagai dosa besar. Karena itu hamba-hamba yang terlanjur menyatakan pengakuan itu hendaklah bertaubat kepada Allah. Hanya dengan bertaubat, dosa besar seseorang hamba dapat diampuni oleh Allah swt.

Akhir ayat ini memberi pengertian bahwa Allah hendak membersihkan diri-Nya dari perkataan orang-orang kafir itu. Allah menyatakan yang demikian semata-mata untuk menjaga hak hamba-hamba-Nya, membersihkan kepercayaan hamba-hamba-Nya yang dapat merugikan mereka di dunia dan di akhirat nanti.

Bahkan Allah swt. menegaskan bahwa seluruh alam ini adalah milik-Nya, berada di bawah kekuasaan-Nya. Tidak sesuatupun yang dapat mengurangi kehendak-Nya dan yang dapat merugikan-Nya. Semua patuh dan tunduk kepada-Nya.

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 117


117     Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia mengatakan kepadanya: `Jadilah`. Lalu jadilah ia.(QS. 2:117)

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (117)

Dari ayat ini dipahami bahwa Allah swt. menciptakan sesuatu dengan tidak mencontoh kepada sesuatu yang telah ada, tidak menggunakan sesuatu bahan atau alat dari bahan atau yang telah ada. Semuanya itu terjadi sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini ditegaskan oleh lanjutan ayat ini.

Menurut bunyi ayat: Allah swt. menciptakan sesuatu dengan perkataan "kun" (adilah). Sedang yang dimaksud hanyalah sekedar misal saja, agar mudah dipahami oleh hamba-hamba-Nya. Tentang cara Allah mengadakan sesuatu dan bagaimana proses terjadinya sesuatu, ini hanya Allahlah Yang Maha Tahu.

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 118


118     Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: `Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?` Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.(QS. 2:118)

وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (118)

Orang-orang yang tidak mengetahui dalam ayat ini ialah orang-orang Mekah. Mereka dikatakan tidak mengetahui karena kepercayaan mereka tidak berdasarkan kitab yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi-Nya dan tidak mengikuti nabi-nabi yang telah diutus-Nya. Hal ini ditegaskan ayat selanjutnya bahwa Allah swt. langsung mengarahkan pembicaraan kepada Nabi Muhammad saw. tentang sikap orang-orang musyrik itu dan persamaan perkataan mereka dengan perkataan orang sebelum Nabi Muhammad diutus.

Orang-orang musyrik itu mengatakan, "Kenapa Allah tidak langsung berbicara dengan mereka yang menerangkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan Alquran diturunkan dari Allah atau datang kepada mereka Malaikat untuk menjelaskannya, atau datang dalil-dalil yang menerangkan dan membuktikan kenabian Muhammad?"

Allah swt. menerangkan bahwa perkataan mereka itu sama dengan perkataan orang-orang sebelum mereka yang mereka ucapkan kepada nabi-nabi yang diutus kepada mereka. Juga Allah menerangkan bahwa apa yang mereka katakan itu sebabnya sama, yaitu karena keingkaran dan kedengkian mereka kepada Muhammad, bukan karena tidak adanya dalil-dalil atau bukti-bukti yang telah didatangkan Allah. Telah banyak dalil-dalil yang didatangkan Allah, tetapi hati mereka tertutup menerima dalil-dalil itu, karena kesombongan dan keangkuhan mereka. Apapun dalil dan bukti yang didatangkan, mereka tetap tidak akan beriman.

Perkataan-perkataan orang-orang yang terdahulu yang sama dengan perkataan-perkataan orang-orang musyrik itu tersebut di dalam Alquran, seperti perkataan orang-oang Yahudi, Allah swt. berfirman:

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika kamu (Yahudi) berkata, "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.... (Q.S Al Baqarah: 55 lihat juga Q.S An Nisa': 153)

Dan firman Allah swt.:

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja, sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-sayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.... (Q.S Al Baqarah: 61)

Orang-orang Nasrani berkata kepada Isa a.s. sebagaimana tersebut dalam firman Allah swt.:

إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ
Artinya:
(Ingatlah) ketika pengikut-pengikut Isa berkata, "Hai Isa putra Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?" (Q.S Al Ma'idah: 112)

Selanjutnya Allah swt. menegaskan bahwa orang-orang kafir tidak akan beriman walau keterangan atau bukti apa pun yang diturunkan kepada mereka.

Allah swt. berfirman:

وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَابًا فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ لَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ (7)
Artinya:
Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentu orang-orang yang kafir itu berkata, "Ini tidak lain hanyalah sihir belaka." (Q.S Al An'am: 7 baca pula ayat 8, 9 dan 10)

Pada akhir ayat Allah menerangkan bahwa Dia selalu menurunkan bukti-bukti dan dalil-dalil bagi segala sesuatu, Dia menerangkannya dengan sejelas-jelasnya. Orang-orang yang bersih jiwa dan hatinya akan segera monerima dalil-dalil dan bukti itu dan mereka segera meyakininya. Orang-orang yang tidak menerimanya ialah orang-orang yang dalam hatinya ada rasa dengki dan penyakit, hatinya kasar dan tertutup.

Allah swt. berfirman:

أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
Artinya:
Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu, sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (Q.S Az Zariyat: 53)

Ayat di atas merupakan penawar duka bagi Nabi Muhammad saw. yang sedang menghadapi keingkaran kaum musyrik Mekah terhadap seruan beliau. Seolah-olah ayat di atas menerangkan bahwa sikap kaum musyrikin itu adalah sikap yang sama dengan sikap orang-orang dahulu terhadap nabi-nabi yang diutus kepada mereka. Karena itu janganlah dihiraukan sikap mereka itu dan janganlah bersedih hati.

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 119


119     Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.(QS. 2:119)

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ (119)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah mengutus Muhammad dengan kebenaran. Kebenaran itu ialah sesuatu yang kokoh kuat lagi pasti tidak menyesatkan orang-orang yang menganutnya bahkan membahagiakannya dan tidak sedikit pun mempunyai unsur-unsur keragu-raguan apalagi kebatilan. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa di dalam kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu terkandung arti iktikad, hukum, tata cara, kebiasaan yang baik dan segala hal yang dapat membahagiakan hidup manusia di dunia dan di akhirat.

Allah swt. menerangkan, bahwa di antara tugas Nabi Muhammad itu ialah:

1.Memberi kabar gembira, yaitu kabar gembira dari Allah yang menjanjikan kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi orang-orang yang mengikuti agama yang dibawa oleh Muhammad itu. Perkataan "basyiran" juga memberi pengertian isyarat, tanda yang memberi kabar gembira, seperti adanya mendung sebagai tanda hari akan hujan.

2.Memberi peringatan, yaitu memberi peringatan bahwa ada nestapa bagi orang-orang yang tidak mengikuti perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya dan bagi orang-orang yang menghalangi seruan Nabi Muhammad saw.

Orang-orang yang tidak mengindahkan peringatan itu dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Ungkapan semacam ini menunjukkan kerasnya azab yang akan diderita oleh orang-orang yang mendustakan nabi.

Kemudian Allah swt. menerangkan tentang batas-batas dan tugas Nabi Muhammad saw., yaitu menyampaikan agama kepada manusia, sedang yang memberi penilaian terhadap sikap manusia kepada seruan Muhammad adalah Allah sendiri. Hanya Allahlah yang memberi pahala dan memberi hukuman.

Allah swt. berfirman:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
Artinya:
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya. (Q.S Al Baqarah: 272)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 120


120     Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: `Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)`. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.(QS. 2:120)

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (120)

Ayat ini menyatakan keinginan ahli kitab yang sebenarnya sehingga mereka melakukan tindakan-tindakan terhadap orang-orang yang beribadat di masjid Allah, merobohkan masjid itu, menyerikatkan-Nya, mengingkari seruan Nabi Muhammad saw., nabi terakhir.

Mereka tidak akan berhenti melakukan tindakan itu sehingga Nabi Muhammad saw. dan pengikutnya menganut agama yang mereka anut, yaitu agama yang berasal dari agama-agama yang dibawa para nabi yang terdahulu, tetapi ajaran-ajarannya sudah banyak diubah-ubah oleh mereka.

Karena itu hendaklah kaum muslimin waspada terhadap sikap ahli kitab itu, janganlah ragu-ragu mengikuti petunjuk Allah, yaitu petunjuk yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi-Nya, bukan petunjuk yang berasal dari keinginan dan terutama keinginan dan hawa nafsu orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani melakukan tindakan-tindakan itu setelah pengetahuan datang pada mereka, yaitu pengetahuan tentang agama yang diridai Allah dan ajaran-ajaran dari agama itu, yaitu agama Islam.

Menurut zahirnya ayat ini langsung ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. yaitu berupa ancaman dan peringatan yang keras seandainya Nabi saw. mengikuti kemauan mereka padahal Nabi saw. telah dijamin Allah terpelihara dari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah. Di dalam Alquran banyak terdapat ayat-ayat yang seperti ini, yaitu suatu ayat yang akhirnya ditujukan kepada Nabi saw., tetapi yang dimaksud ialah umat nabi Muhammad saw. Allah swt. memperingatkan dengan ayat ini agar kaum muslimin berhati-hati terhadap sikap para ahli kitab kepada agama Islam dan kaum muslimin itu.

No comments:

Post a Comment