Sunday, April 28, 2013

Tafsir Surah AlBaqarah 156-160

💬 : 0 comment

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 156


156     (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa mushibah, mereka mengucapkan:` Innaalillaahi wa innaa ilaihi raajiuun `.(QS. 2:156)

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156)

Di dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. supaya memberi kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Apabila mereka ditimpa sesuatu musibah mereka mengucapkan "innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun", yang artinya "sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali".

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 157


157     Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. 2:157)

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

Kabar gembira itu ialah berita bahwa orang-orang yang sabar itu mendapat berkat, ampunan, rahmat dan pujian dari Allah, dan mereka itu mendapat petunjuk kepada jalan yang benar.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 157


أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

(Mereka itulah yang mendapat selawat) artinya ampunan (dari Tuhan mereka serta rahmat) atau nikmat (dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk) ke arah yang benar.

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 158


158     Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.(QS. 2:158)

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ (158)

Pada ayat ini dikuatkan lagi kabar gembira itu dengan menjelaskan bahwa Safa dan Marwah adalah salah satu syiar agama dan barang siapa ingin mengerjakan ibadat haji, haruslah ia melakukan sai antara Safa dan Marwah itu.

Dengan demikian nyatalah bahwa kaum muslimin pasti akan berhasil menaklukkan kota Mekah karena ia adalah tempat melakukan ibadah haji yang menjadi rukun kelima dalam Islam yang harus dikerjakan oleh setiap muslim yang mampu menunaikannya. Karena itu Masjidil Haram dan sekelilingnya harus dibersihkan dari berhala dan kemusyrikan. Menurut riwayat Bukhari, Asim bin Sulaiman bertanya kepada Anas tentang Safa dan Marwah. Anas bercerita: "Kami mengetahui bahwa Safa dan Marwah itu adalah tempat beribadat di masa Jahiliah karena di sana terdapat dua berhala yang bernama Usaf dan Nailah. Orang-orang pada masa jahiliah mengusap kedua berhala itu dengan tangannya. Setelah datang Islam, kami tidak mau lagi mengerjakan itu di sana karena kami menganggapnya sebagai perbuatan jahiliah. Maka turunlah ayat ini."

Safa dan Marwah adalah dua tempat yang telah ditetapkan Allah menjadi syiar agama Islam dan barang siapa yang hendak mengerjakan ibadah haji atau umrah haruslah ia melakukan sai antara kedua tempat itu.

Meskipun ada perbedaan pendapat antara imam-imam mazhab mengenai hukum sai ini; ada yang menganggapnya sebagai rukun haji seperti Imam Malik dan Imam Syafii dan ada pula yang menganggapnya sebagai wajib haji seperti Imam Abu Hanifah namun sudah terang bahwa sai itu harus dikerjakan dalam menunaikan ibadah haji. Secara umum, tidak ada perbedaan antara rukun dan wajib.

Tetapi khusus dalam masalah haji dibedakan antara keduanya. Rukun ialah yang harus dikerjakan atau tidak dapat diganti atau ditebus. Wajib ialah yang musti dikerjakan tapi jika ditinggalkan harus diganti dengan membayar denda (dam). Yang menjadi pertanyaan di sini ialah mengapa dalam ayat ini disebutkan "tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya" padahal sai itu adalah suatu rukun atau wajib, dan tidak mungkin seseorang yang menunaikan rukun atau wajib akan berdosa.

Hal ini untuk menghilangkan keragu-raguan kaum muslimin tentang mengerjakan Sai ini karena kaum musyrikin juga mengerjakan sai dalam ibadah mereka, seakan-akan apa yang dikerjakan kaum musyrikin itu tidak boleh dilakukan oleh kaum muslimin dan mereka akan berdosa bila mengerjakannya. Jadi harus dipahami betul bahwa maksud mengerjakan sai kaum musyrikin amat jauh berbeda dari maksudnya pada kaum muslimin. Mengerjakan sai itu adalah keimanan dan mempercayai Rasulullah serta mematuhi perintahnya.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa barangsiapa yang membuat kebajikan atau amal ibadat lebih daripada yang diwajibkan kepadanya (mengerjakan yang sunat-sunat), Allah akan mensyukuri amal kebaikan itu dan Allah Maha Mengetahui semua amalan hamba-Nya. Maka janganlah kita ragu-ragu berbuat kebajikan karena semua amal itu akan dibalas dengan berlipat ganda oleh Allah yang sangat menghargai perbuatan hamba-Nya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 158


إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ (158)

(Sesungguhnya Safa dan Marwah) nama dua bukit di Mekah (adalah sebagian dari syiar-syiar Allah) tanda-tanda kebesaran agama-Nya, jamak dari 'syaa`irah.' (Barang siapa yang melakukan ibadah haji atau umrah) artinya memakai pakaian haji atau umrah. Asal makna keduanya adalah menyengaja dan berkunjung, (maka tiada salah baginya) artinya ia tidak berdosa (mengerjakan sai) asalkan sebanyak tujuh kali. Ayat ini turun tatkala kaum muslimin tidak bersedia melakukannya, disebabkan orang-orang jahiliah dulu biasa tawaf di sana sambil menyapu dua berhala yang terdapat pada keduanya. Menurut Ibnu Abbas bahwa sai itu hukumnya tidak wajib, hanya takhyir, artinya dibolehkan memilih sebagai akibat tidak berdosa. Tetapi Syafii dan ulama lainnya berpendapat bahwa sai adalah rukun dan hukum fardunya dinyatakan oleh Nabi saw. dengan sabdanya, "Sesungguhnya Allah mewajibkan sai atas kamu." (H.R. Baihaqi) Sabdanya pula, "Mulailah dengan apa yang dimulai Allah, yakni Shafa." (H.R. Muslim) (Dan barang siapa yang dengan kemauan sendiri berbuat) ada yang membaca 'Taththawwa`a', yaitu dengan ditasydidkan ta pada tha, lalu diidgamkan (suatu kebaikan) maksudnya amalan yang tidak wajib seperti tawaf dan lain-lainnya (maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri) perbuatannya itu dengan memberinya pahala (lagi Maha Mengetahui).

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 159


159     Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati,(QS. 2:159)

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ (159)

Dalam ayat ini disebutkan lagi sifat-sifat ahli Kitab tersebut dan bahwa mereka mendapat laknat dari Allah, malaikat dan manusia seluruhnya. Ayat ini turun mengenai pendeta-pendeta Yahudi. Mereka menyembunyikan terhadap kaum mereka sifat-sifat Nabi Muhammad yang tersebut dalam kitab-kitab mereka, agar orang-orang Yahudi itu jangan masuk Islam. Orang-orang ahli Kitab yang selalu menyembunyikan kebenaran Islam dan kebenaran Nabi Muhammad saw. padahal yang demikian itu telah tertulis dengan nyata dan jelas dalam kitab-kitab mereka, adalah orang-orang yang telah sewajarnya mendapat laknat dari Allah dan dijauhkan dari rahmat dan kasih sayang-Nya dan wajar pula bila dimintakan laknat untuk mereka oleh malaikat dan manusia seluruhnya. Hukum mengenai kutukan bagi orang yang menyembunyikan ilmu pengetahuan yang sebenarnya mesti disiarkan dan dikembangkan tidak hanya terbatas pada Ahli Kitab itu, bahkan mencakup semua orang yang bersifat seperti itu.

Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, beliau bersabda:

من سئل عن علم فكتمه ألجم يوم القيامة بلجام من نار
Artinya:
Barangsiapa ditanyakan kepadanya tentang sesuatu ilmu yang diketahuinya tetapi tidak mau menerangkannya kepada penanya itu, maka Allah akan membelenggunya dengan belenggu api pada hari kiamat. (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Abu Hurairah berkata: "Kalau tidaklah karena takut akan ancaman Allah dalam ayat ini (ayat 159) tentulah saya tidak akan meriwayatkan suatu hadis pun dari Rasulullah." Karena itu seorang muslim berkewajiban menyampaikan ilmu yang dimilikinya baik yang berupa pengetahuan agama maupun berupa pengetahuan umum, yang bermanfaat bagi masyarakat. Dan bila diketahui akan ada pelanggaran terhadap hukum agama itu atau penyelewengan dari akidah yang benar, seperti tersiarnya bid'ah dan aliran-aliran kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid, haruslah para ulama bangun serentak untuk membetulkannya, baik dengan lisan maupun tulisan. Dengan demikian akan tetaplah terpelihara kesucian agama dan kemurniannya.

Orang-orang Yahudi mendapat laknat adalah karena mereka selalu menyembunyikan kebenaran. Bila mereka melihat sesuatu yang mungkar atau yang tidak benar, mereka diam saja dan tidak berusaha untuk mencegah atau memperbaikinya.

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 160


160     kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS. 2:160)

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (160)

Dikecualikan dan dibebaskan dari laknat Allah, malaikat dan manusia, orang-orang yang taubat dari kesalahan dan kelalaiannya dan memperbaiki dirinya dengan cara mendekatkan diri kepada Allah serta menerangkan dan menyiarkan ilmu yang dimilikinya dan berani menegakkan kebenaran, memerangi kemungkaran. Bagi orang-orang yang seperti itu walaupun mereka telah terlanjur berbuat kesalahan, namun Allah tetap menyediakan ampunan, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jadi janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah dan petunjuk-Nya bagaimanapun besar dan banyaknya kesalahan dan dosanya karena pintu taubat dan rahmat Allah terbuka selebar-lebarnya bagi orang-orang yang insaf dan ingin memperbaiki dirinya.

No comments:

Post a Comment